Tampilkan postingan dengan label syairku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syairku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Desember 2011

Rasa Yang Membisu

Dalam remang cahaya lilin
Sekilas nampak kilauan kasih
Memedarkan arti kekelabuan hati
Sesaat seolah redup
Membisakan harapan cinta dan kerinduan

Dalam dada menyesak arti ketidakpastian
Sesekali ingin semua cita teraih
Namun, tak dapat menembus batas ruang
Yang semakin menjauh

Dikala sekelebat kilat menyala
Cahayanya menyilaukan mata
Bukan terang yang kuraih
Namun kegelapan setelahnya

Hamparan bunga cinta menjadi merana
Kedinginan, ingin ada yang memetiknya
Dipandang ditaruh dalam vas bunga
Walau nantinya layu
Namun hidupnya menjadi berarti
Menikmati semua tujuan yang dicapai
baca tulisan >>

Kepastian


Ketika kupaksa mata ini terpejam
Justru hati terus cerita
Bicara tentang kesepian malam
Tentang matahari yang telah tenggelam
Kesepian adalah pengharapan kasih
Sedang tenggelam adalah masa lalu

Saat akhir tidak berarti kebahagiaan
Perasaan menjadi terlukakan
Khan kucari mutiara ketulusan
Kristal mujarab penawar kepedihan
Sungguh, hanya sang dewi yang memiliki
Sebelum fajar di ufuk timur menjelang
Kupastikan sang dewi adalah penentuan
Kesembuhan atas sayatan luka-luka ini
baca tulisan >>

Puisi angin "kesendirian"


Di kesepian malam aku sendiri
Termenung dibawah cahaya rembulan
Pucuk-pucuk daun meliuk indah
Mengikuti irama angin perlahan

Angin…., Aku hargai kau menghiburku
Memang tidak ingin aku berlama-lama
Larut dengan gelapnya malam
Terombang-ambing oleh kelamnya awan
Angin…., Tolong katakan pada bintangku
Aku rindu dan berharap dia hadir disini
Dengan segala ketulusan cintanya
Ingin aku mengajaknya bernyanyi
Menari, berdansa berdua
Angin…, katakanlah padanya
Aku perlu belaian sejuta kasihnya
Ingin aku menikmati indahnya malam ini
Dengan kehangatan peluk mesranya
Angin…, untuk yang terakhir
Katakanlah padanya
Aku benci dengan kesendirian ini

Di kesepian malam aku sendiri
Fikiran menerawang menjelajah angkasa
Ingin rasanya kubuka semua tabir gelap
Sehingga bisa kunikmati indahnya rembulan
Beserta gemerlapnya selaksa bintang

Semilir angin berhembus perlahan-lahan
Seolah tak ingin mengusikku dari lamunan
Pucuk-pucuk daun menari penuh kemesraan
Seakan tiada bosan untuk selalu menghibur
Semua gundah dan keresahan hatiku

Ketika malam semakin larut
Aku sadari akan kesenmdirianku
Semuanya memang penuh ketidakpastian
Kecuali…. Bisa kunikmati sisa hidup ini
Dengan cinta dan kasih sayang
Dimana semuanya serba tulus
Dimana semuanya serba ikhlas
Dimana semuanya penuh kerelaan
Tanpa pamrih dan pengharapan
baca tulisan >>

saat ini


Pagi yang indah kujelang kembali

Menghempaskan mimpi meraih bergantinya hari

Di ufuk timur tersirat cahaya kedamaian

Membangkitkan semangat menghangatkan perasaan

Hembusan angin menemaniku berjalan

Mengiringi langkah berpadu dalam kepastian

Gemersik dedaunan bak irama kehidupan

Selalu setia menyanyikan lagu kemenangan

Dalam menggapai makna cita dan cinta

Dalam mewujudkan makna hidup yang sesungguhnya

Biarkan pergantian hari terus berjalan

Karena setiap saat akan selalu kujelang
baca tulisan >>

BENDERANG


Kala malam semakin larut
Aku terpaku di dalam kesunyian
Terdiam menatap ilusi kesendirian
Diriku seakan terbiar dalam kehampaan

Kebekuan jiwa menjelma
Kedinginan nurani selalu menemani
Aku merindu tentang kehangatan
Aku bermimpi tentang keindahan

Saat tirai kegalauan mulai tersibak
Fatamorgana menjauh dari realita
Hingga tersingkaplah kebenderangan
Makna kedamaian yang hakiki
baca tulisan >>

Syair Kematian "tiada"

Petikan cinta menggetar sukma
di raga hampa jiwa terpasung
kau usung keranda menjemputnya
di bibir beku kau lumat dia

"Duduklah di sini, hai sang kekasih
bersandarlah di bahu waktu
di tirai putih membalut tubuh
kurangkul engkau tiada jemu.

"Hembuskan napas perlahan,
usah terburu,
usah meragu
Engkaupun sungguh tahu,
Malam tiada pernah berkesudahan..."
baca tulisan >>

sajak puisi “kematian cinta”


pedang ghaibku telah tumpul
sanubariku menghilang dalam tangis
merayap dan merangkak dalam norma sinar yg terpantul
dengan tangan ini aku kembali mencoba untuk menangis
oohh sang hyang widi wasa….
lepaskan samsara dalam sukma ini
berilah kesabaran dalam hidup manusia
manusia yg menanti ajal esok nanti
riak air mata meresap ke dalam pori pori
menyisakan rasa dingin yang hampa
membiarkan rasa cinta yg kemudian mati
hanya berharap akan datang malaikat pencabut nyawa
oohh gusti pangeran sing kuasa
lepaskan derita dan duka dalam jiwa ini
berilah sedikit pati rasa dalam hidup dalam cinta
cinta yg sudah enggan untuk mencari
baca tulisan >>

Sabtu, 17 Desember 2011

syair kematian


  

Tiupan serulingmu,
berdenting nyaring di indera
pendengaranku,
Seolah memanggil jiwa ini,
di kesunyian hati tak terperih
Kutemui kau sang jubah hitam,
di ujung persimpangan malam,
Sebongkah batu tertunduk pilu,
manakala kau berkata,"waktumu
sudah tiba...!"
Ilalang sontak cemas,
berpegang teguh di akar rapuh
Pucat menghinggapi wajahnya
Manakala kau berkata,"waktumu
belum tiba!"
Kau hampiri diriku,
yang menggigil di tepi takdir,
kau lepaskan jubah kebesaranmu,
menyematkan di dingin badanku
"Telah tiba masamu bertemu kekasih
jiwamu,
Usah takut dan meragu,
Telah berakhir segala resah dan
gundah di penantian hari-harimu"
Kusambut tanganmu,
yang memelukku hingga bermandi
peluh,
Kitapun menari di angkasa,
meninggalkan seonggok tubuh layu,
berselimutkan ilalang tertunduk haru
di tepi batu

baca tulisan >>

kamboja bergoyang

Bukit-bukit akhir sebuah pandang
bisu. Kabut yang ditiupkan angin
bertebaran hancur membuat
angkasa satu warna. Di langit seribu
muka bergadha dalam iringan keok
gagak hitam berkibaran.
Tanda jarum kapankah bila aku
tinggal cuma punguti mimpi
bersamamu. Tanda tunjuk manakah
bila sepanjang kenang lalu
bersamamu kini buntu kaki.
Pernah kau katakan betapun terasa
kita punya letih tak bakalan terminal
memberi henti seterusnya. Itu
hanya istirahat, dimana ancang
ancang
karena seribu jalan lagi telah
menghadang. Dan kita diharuskan
buati
sejarah jejak-jejak.
Kita mesti bermarathon. Itu katamu
ketika justru dokter membisu
sambil hanya gelengan kepala tak
yakin pada dirinya. Kitamesti berlari
kencang. Itu katamu ketika justru
nafasmu pendek menipis di paru-
paru.
Kamboja bergoyang usai
pemakaman. Aku melihatmu berlari
kemenangan. Aku melihat duduk
senyum manismu di warung
minum apa terminal mana. Aku
melihatmu begitu ayu dalam buaian
angin semilir ketika hendak siapi
titian jembatan shirootholmustaqim.
Iklaskanlah aku ya, sajadahmu.
Ikhlaskanlah aku ya, jilbabmu.
Ikhlaskanalh aku ya, lapang dadamu
di setiap kau hadapi persoalan
malam ku. Sabarmu tak ada henti di
sewotku.
Kamboja bergoyang usai
pemakaman. Aku kembali dalam
getar sadar
kemiskinan. Aku kembali sambil
kupunguti topeng topengku yang
bergantungan di jalur langit. Aku
hitung itu semua. Kubakar
selekasnya. Aku menangis.
Izinkanlah aku mandi di pancuran
fitrahku.
Lewat air mataku. Lewat sajadah
tinggalanmu. Amin.
baca tulisan >>

Senin, 12 Desember 2011

Catatan & Cicitan -PUTUS-

22-11-2009 01:31
{(TAKKAN ADA LAGI SEPERTIMU) (andai ada yang sepertimu)}

Mengenangmu torehkan perih dihatiku. Meskipun perih, tetap kaulah yang terindah dihidupku.
Wahai bintang dilangit, lindungi dirinya. Meski kini jiwanya, telah jauh dariku. Namun sungguh ku tak ingin, penyesalan didalam hatiku. Jika waktu mampu kuulang lagi, takkan ada pedih membayangi langkahku. Dan demi esok hari, kan kuingat senyummu dalam setiap nafasku.
# Aq g tw hrz gmn?Tp yg jlz khdpnQ dh hncr g da arti & gnany lg.Krn km adl org yg plg g bsa dprcya.Krn saat htQ bnr2 cma ada km n aq bnr2 brhrp sma km,tp knyataany km mgkri jnj.Mghianati kstianQ.DrQ nhe km aggp p?Stlh aq hncr sprt nhe,kau cmpakkn drQ bgai smpah yg tak sdi lg km tngok.Aq tkt klo aq smpai mgluh,sma nhe bnr2 gr2 ulah kbiadabanM.Gr2 km yg dh tk pny naluri,prsa'n p lg kstia'n.
# Knp?Knp kau hdr lg dlm khdpanQ.P km g bsa ngrsa gmn sktny htQ.P 5ng km trllu picik ttg sma ne?
Jgn prnh kau aggp drQ tonk smpah yg sllu mnrma ocehan dr mlut busukM. Trllu mdh bgiM bwt nglkuin ini smua.
Bdohny drQ yg tak mmpu mlhat kbiadabanM yg hny trttp wjahM yg tdny bsa aq kgumi. Aq g pgn mcm2 kq dr km.Aq g mnt bnyk.
Aq cma pgn km rbah skapM,aq cma mnta km pkrkn dl hal yg kn km lkukan.Kshan org yg dk sma km.Kshn klo mrka jg mrskn sprt p yg aq rsakn.
baca tulisan >>

Sebuah renungan kematian

sungguh, diri ini masih sangat takut akan kematian… diri ini merasa belum siap untuk menghadap Allah. terlalu banyak catatan hitam dalam diri ini yang belum diperbaiki. bahkan q sudah lupa. ada di bagian mana saja catatan hitam itu tersimpan. saudaraku, q harap, engkau adalah makhluk yang miskin dosa. q harap catatan kehidupanmu dipenuhi dengan catatan kebaikan.
saudaraku.. q benar-benar merasa takut… bagaimana bila esok hari adalah waktu q?? q belum siap bila harus bertemu dengan para makhluk taat yang akan melakukan interogasi kepadaku… q takut akan hukuman yang pasti q terima atas segala kesalahan q di dunia ini… q takut dengan ancaman hukuman siksa pedih.. q takut terhadap para penyiksa yang tak memiliki belas kasih… q takut dengan api yang siap melahap diri ini….
kawan… q sungguh takut…

namun, q juga sadar. hanya merasa takut bukanlah sesuatu yang harus dilakukan. yang perlu dilakukan adalah persiapan untuk sebuah hal pasti tersebut. kawan, semoga diri ini dan dirimu tergolong manusia yang beruntung. semoga Allah melimpahkan kasih dan sayang Nya kepada kita.
baca tulisan >>

Ping your blog, website, or RSS feed for Free

visit this site sahabat syair kamboja

 

syair kamboja. Copyright since 2008 admin by : guombloch